Islam

Beberapa Sunnah Haji yang Dapat Menyempurnakan Ibadah

Ibadah haji menjadi kewajiban bagi setiap pemeluk Islam yang mampu secara fisik dan ilmu. Ketika diperhatikan ibadah tersebut mempunyai tingkatan yang berbeda. Dimana jamaah haji tidak hanya melakukan sholat dan sholawat. Melainkan terdapat rangkaian ritual agama yang wajib dilaksanakan. Tepat, ibadah haji berisi tentang rukun, wajib, sunnah haji. Ketiganya mempunyai standar dan konsekuensi yang tak sama.

Rukun menjadi bagian yang tidak boleh ditinggalkan oleh setiap jamaah haji. Mulai dari ihrom, thowaf, sa’i, serta kegiatan lainnya. Sedangkan untuk sunnah menjadi ibadah yang nantinya membuat haji semakin sempurna. Terdapat perbedaan pendapat antar ulama. Misalnya saja, Syekh Abu Syuja (Mazhad Syafi’i) yang menyatakan tentang 7 sunnah haji. Sedangkan pendapat lain dari ulama Syafi’iyah menerangkan 4 sunnah haji.

Terkait perbedaan ini bisa jamaah tanyakan pada pembimbing haji. Biasanya mereka akan menyesuaikan dengan keadaan dan situasi. Bagaimanapun yang namanya sunnah tidak mempunyai konsekuensi sebesar rukun dan wjaib haji. Selain itu, jamaah haji juga diwajibkan untuk tetap menjaga diri dari hal-hal yang dilarang.

Sampai disini Anda tentu bisa memahami bahwa haji dan umroh bukan sekedar datang ke Mekkah. Melainkan terdapat pelajaran besar yang nantinya menjadi materi untuk mengubah diri menjadi lebih baik. Bagi Anda yang ingin tahu lebih detail mengenai konteks tersebut. Bisa langsung aksesmenuju hasana.id.

Sunnah-sunnah Haji yang Perlu Dipahami

Seperti yang sudah diterangkan di awal bahwa ada beberapa pendapat yang menerangkan tentang sunah haji. Namun, berbedaan tersebut bukan menjadi masalah besar. Sebab, konteks yang diutamakan ialah bagaimana Anda menyempurnakan ibadah haji dengan sunnah. Tentu saja hal ini berbeda dengan konsekuensi yang diterima saat Anda tidak menjalankan rukun dan wajib haji. Nah, berikut sunnah haji merurut Syekh Abu Syuja dalam tarqibnya:

  1. Ifrad adalah prioritas untuk mendahulukan haji dibandingkan umroh.
  2. Talbiyah atau membaca Labbaik Allahumma Labbaik.
  3. Thawaf qudum.
  4. Mabit di Poin tersebut yang kemudian menjadi perbedan dikalangan ulama. Sebab, beberapa dari mereka mengakatakan bahwa Mabit di Muzdalifah terlalu lemah untuk dimasukan pada sunah haji. Kegiatan ini seharusnya masuk pada ranah wajib haji.
  5. Sholat sunnah dua rokaat. Sholat sunnah tersebut dilakukan setelah melakukan thowaf. Sholat tersebut bisa dilakukan dimanapun selama masih di Tanah Haram.
  6. Mabit di Mina saat malam-malam Tasyrik. Pendapat lain menerangkan bahwa Mabit di Mina termasuk bagian dari wajib haji. Salah satu pendukung pendapat tersebut ialah Kyai Alif.
  7. Thawaf wada’ atau thowaf perpisahan. Hal serupa juga dianggap oleh ulama syafi’iyah sebagai aspek yang masuk pada wajib haji. Tepat, perbedaan ini bukan sesuatu yang harus dipusingkan. Jamaah hanya perlu mengikuti instruksi.