Jembatan Tano Ponggol ini merupakan akses darat satu-satunya untuk bisa menuju Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba. Desain bangunan ini mengadopsi kearifan lokal adat Batak dengan tinggi jembatan sekitar 8 hingga 9 meter dari permukaan danau.

Memasukkan Unsur Kearifan Lokal

Dibangunnya jembatan dengan konsep cable stayed dengan tiga tiang tungku yang berasal dari adat Batak yaitu Dahilan Na Tolu. Filosofi ini dipilih karena kementrian PUPR memang ingin memasukkan unsur kebudayaan di dalam pembangunan jembatan ini.

Dengan konsep yang telah diketahui filosofinya tersebut, dapat membawa seseorang yang melintas merasakan suasana Batak terkandung dalam jembatan itu. Adanya konsep seperti ini juga ikut mengenalkan kebudayaan Batak pada masyarakat luas.

Akses Yang Mempermudah

Wisatawan yang ingin mengunjungi Pulau Samosir biasanya menggunakan kapal penyebrangan untuk sampai ke pulau tersebut. Namun hadirnya jembatan ini mempermudah akses tersebut, karena jembatan ini menghubungkan Pulau Samosir dan tanah Sumatera.

Jangan dibandingkan dengan jembatan Ampera atau Suramadu, karena jembatan ini hanya memiliki Panjang 20 meter saja. Meskipun begitu, masyarakat tetap senang dan bersyukur karena adanya jembatan ini yang bisa mempermudah akses darat dari Samosir ke Sumatera.

Namun adanya jembatan ini belum disadari keistimewaannya. Jembatan satu-satunya dari Samosir ke Sumatera ini sangat membawa banyak manfaat bagi masyarakat, bahkan ada kalimat yang menyatakan “Tanpa jembatan ini, tidak ada yang namanya Pulau Samosir”.